Tuesday, November 24, 2015

Sunday, September 15, 2013

Belajar Buat Relese Part VI

1000 Cinta untuk Maba


 

Bandar Lampung (MCU-Birohmah): Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) Bina Rohani Islam Mahasiswa (Birohmah) Universitas Lampung (Unila), tampil dalam ajang Orientasi Ekstrakurikuler Universitas Lampung. Bertempat di gedung serba guna (GSG) Universitas Lampung, Birohmah tampil sebagai UKM penutup di hari kedua orientasi mahasiswa baru universitas, Rabu (28-8).
             
    Dengan mengusung tema “1000 cinta untuk Maba”, kehadiran Birohmah dalam Orientasi Ekstrakurikuler Universitas ini bertujuan mengenalkan UKM Birohmah kepada mahasiswa baru (Maba) 2013, serta mengajak mereka untuk bergabung dalam keluarga besar UKM Birohmah. Ketua Umum Birohmah, Ketua Umum masing-masing UKM Islam fakultas, serta seluruh Aktivis Dakwah Kampus Unila ikut berpartisipasi dalam agenda ini. Dalam orasinya, Ketua Umum UKM Birohmah Yasin Yahya berharap, Maba unila 2013 kelak menjadi generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga secara ruhaniyahnya.
     
      Tidak hanya tampil saat Orientasi Ekstrakurikuler Universitas, selama dua hari terakhir Birohmah juga aktif melakukan penyambutan terhadap Maba. Antara lain dengan mengadakan ojek gratis, menyambut Maba di GSG, dan mendirikan posko kasih sayang bagi Maba Unila 2013. Triando Kurniawan selaku Ketua Pelaksana mengatakan, “meski dari kepanitiaan  PMBU (penerimaan mahasiswa baru universitas) sendiri persiapan yang dilakukan belum bisa dikatakan maksimal, namun Insya Allah inilah yang terbaik yang bisa kami lakukan”. “Saya pribadi merasa PMBU ini luar biasa dahsyat”, imbuh Mahasiswa Budidaya Perairan Unila angkatan 2012 ini.  

Sunday, August 25, 2013

Menjadi Ramah atau Solihah?





“Allaahu Akbar-Allaahu Akbar-Allaahu Akbar, Laaailaaha Illallaahu Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillah Ilham”
Sayup-sayup suara itu masih terdengar ditelinga. Dari masjid Darul Hikmah yang berjarak hanya 200 meter dari rumah. Bagai nyanyian rindu yang hanya terdengar setahun sekali. Menghidupkan semangat dan nuansa kehangatan bagi siapapun yang mendengar. Langit biru yang biasanya terang pun  tertutup kelembutan awan.  Membawa kesejukan dan ketentraman. Mendorong setiap orang melaksanakan sholat Id di masjid. Dan seolah ia pun tahu umat islam sedang merayakan hari spesial. Jalan Raya Lintas Timur Sumatera yang biasanya ramai pun ikut lengang. Hanya terlihat lalu lalang orang ke masjid serta beberapa pemudik yang hendak menuju kampung halaman.
Senang, nyaman, takjub, bahkan heran barcampur jadi satu. Maha Besar Allah yang masih memberiku kesempatan menyaksikan semua itu. Lebih dahsyat lagi tentu sebulan yang lalu. Bulan yang paling banyak Allah turunkan keberkahan-Nya masih sempat aku rasakan. Setelah sebulan penuh terlewati nampaknya ini benar-benar hari kemenangan. Idul Fitri. Atau yang biasa disebut orang Jawa dengan kata “riyoyo” yang artinya hari raya. Ada juga istilah lain yang menyebutnya “bodo”,  tak tahu dari mana asal dan arti katanya.
Tapi jangan salah, aku ingat benar yang guru ngajiku katakan waktu masih kecil dulu, “lek uwong ora poso yo ora ndue riyoyo”. Maksudnya, jika seseorang tidak berpuasa berarti dia  tidak punya hari raya. Kata-kata singkat namun penuh makna. Jika dipikir-pikir apa yang beliau katakan memang benar. Orang puasa kan sama halnya sedang berperang. Mereka berjuang melawan nafsu. Kalau berhasil dikatakan menang, kalau gagal ya berarti kalah. Logikanya yang jelas-jelas perang masih bisa kalah, apalagi yang tidak perang? Begitu pemahamanku sejak dulu.
Aku menyaksikan semuanya dari rumah. Ayah, paman, dan kedua adikku sudah berangkat ke masjid sejak tadi. Hanya aku dan ibu yang tidak ikut. Dari rumah aku dengar takbir berhenti berkumandang. Berarti waktu sholat sudah tiba. Jam dinding baru menunjukkan pukul 06:45 ketika imam mulai memimpin para jamaah. Sepuluh menit kemudian, giliran khotib mengerjakan tugasnya. Dari dalam rumah, aku masih menyimak baik beberapa kalimat yang ia sampaikan. “Hadirin yang dimuliakan Allah, hari kemenangan telah tiba. Hari yang merupakan momen paling tepat untuk saling memaafkan, menyambung silaturahim, dan menyambung persaudaraan. Tapi yang harus diingat, saling bermaafan beda dengan saling bersalaman. Saling bermaafan berarti sama-sama saling mengikhlaskan kesalahan serta kekhilafan orang lain, sedangkan saling bersalaman ialah kegiatan berjabat tangan yang dilakukan antara orang yang satu dengan yang lain. Di lingkungan kita, terjadi kesalahpahaman. Jika mau bermaafan  berarti harus bersalaman. Entah dengan mahram atau bukan. Padahal dalam Islam sudah jelas-jelas dikatakan, bahwa bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram hukumnya adalah haram”.
            Itulah sepenggal kalimat khotbah yang masih kuingat, selebihnya aku tidak tahu. Jika direnungkan, yang dikatakan khotib itu tepat sekali. “Saling bermaafan beda dengan saling bersalaman”. Sejak kapan Rosululloh SAW pernah mengajarkan kita, jika bermaafan maka harus berjabat tangan. Tidak pernah sekalipun. Bahkan dalam sabdanya beliau melarang antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk bersentuhan. Namun kenyataan dalam masyarakat malah sebaliknya. Tak perlu jauh-jauh bicara soal masyarakat, bahkan orang tuaku sendiri pun juga begitu. Ibuku terutama. Beliau sangat menentang saat aku bilang kalau lebaran nanti aku tidak mau salaman dengan yang bukan mahram. Dengan berbagai alasan beliau menyanggahku. Katanya, “kalau tidak mau salaman nanti dikatakan angkuh, sombong, tidak bermasyarakat”. Bahkan pernah beliau mengatakan kalau pak Kyai pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam pun masih mau salaman dengan yang bukan mahramnya. Maklumlah, keluarga besarku memang kurang suka melihat orang seperti itu. Berjilbab terlalu lebar, kemana-mana pakai kaus kaki, tidak berjabat tangan dengan selain mahram, dan sebagainya. Katanya yang seperti itu berlebihan.  Sebenarnya mereka menyadari itu benar, tapi menurut mereka kurang tepat kalau hal semacam itu diterapkan di desa kami. Ibu juga selalu bilang, “di sana (Bandar Lampung) kamu gak apa-apa seperti itu, tapi kalau di rumah ya jangan”.
Bagiku tantangan dakwah bukan hanya kesulitan dalam mengajak mereka yang belum tahu agama, malahan sebaliknya. Menghadapi mereka yang sudah paham, tapi kurang tegas dalam menjalankan ajaran, itu jauh lebih berat. Terutama untuk orang baru berproses sepertiku.
Sebetulnya sejak kecil, aku sudah mengenyam pendidikan agama. Bapak selalu tegas kalau masalah agama. Sering telingaku dijewer kalau lupa menjalankan sholat lima waktu atau saat salah melafalkan huruf-huruf hijaiyah. Sampai lulus SMA pun aku masih belajar di pondok pesantren. Namun pesantren di desaku tentu agak berbeda dengan yang di Bandar Lampung. Paling mencolok dalam hal pergaulan ikhwan-akhwatnya. Ditempatku bukan hal tabu ikhwan-akhwat berjabat tangan. Bahkan ngobrol tanpa hijab pun sering. Makanya, aku perlu adaptasi cukup lama.
“Rika”, panggilan Ibu membuatku kaget. “Dalem Buk”, jawabku dalam bahasa jawa. Sambil menghampiri Ibu aku masih berpikir. Bagaimana nanti? Apa yang harus aku lakukan saat tetangga, teman-teman masa kecilku, atau bahkan guru ngajiku yang bukan mahram menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Haruskah aku menyambut jabatan itu agar tetap ramah? Atau malah mengabaikannya agar menjadi solihah?

Friday, June 21, 2013

Belajar Buat Release Part VII

Rujak Party Wujud Silaturahmi

 



BANDAR LAMPUNG - (19/6) Ikatan Mahasiswa Lampung Timur menggelar rujak party sebagai rangkaian agenda SIKAM (Refreshing With IKAM). Kegiatan yang diadakan rabu sore di lapangan belakang rektorat Universitas Lampung itu merupakan lanjutan dari agenda SIKAM Lamtim sebelumnya.

Sekretaris Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Ikatan Mahasiswa Lampung Timur Eva Yulianti mengatakan kegiatan ini diperuntukkan sebagai ajang temu kangen antar anggota Ikatan Mahasiswa Lampung Timur.
Eva menjelaskan rangkaian acara dalam agenda ini ialah temu kangen antar anggota, Sharing-sharing, rujak party, dan pembahasan agenda Ikatan Mahasiswa Lampung Timur selanjutnya. “Pertemuan kali ini membahas banyak hal, di antarnya PMBU (penerimaan mahasiswa baru), RTF (road to faculty), Raihan (raih hikmah ramadhan), dan Gebyar Ikatan Mahasiswa Lampung Timur,” ujar dia.

Agenda rangkaian SIKAM Lamtim tersebut dihadiri oleh 25 orang yang terdiri dari presidium, pimpinan, dan anggota Ikatan Mahasiswa Lampung Timur.

Belajar Buat Release Part V

IKAM Lamtim Gelar Orba untuk ke Sekian Kalinya

 



Bandar Lampung-Minggu (16/6) Ikatan Mahasiswa Lampung Timur kembali menggelar agenda rutinnya, Refreshing With IKAM Lamtim (SIKAM Lamtim). Agenda yang dihadiri 20 orang ini bertempat di pelataran belakang gedung serba guna Universitas Lampung. Hadir dalam agenda pagi itu dewan pembina IKAM Lamtim, ketua umum IKAM Lamtim, kepala dan sekretaris departemen IKAM Lamtim, serta anggota beberapa departemen di IKAM Lamtim. Lagi-lagi agenda yang diadakan departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) ini bertujuan untuk semakin meningkatkan kesolidan. Dalam agenda tersebut, tidak ketinggalan juga “ritual rutin” SIKAM Lamtim yaitu sarapan bersama. SIKAM kali ini membahas agenda IKAM Lamtim ke depan. “Mancing Bareng”, resmi akan diadakan 29 Juni mendatang.

Maju terus IKAM Lamtim. Semangat Pemuda, Semangat Perubahan !

Sunday, June 2, 2013

The Time Machine



What I want to do if the opportunity to go using a time machine?






      If I was given the opportunity to go use the time mechine, I want to go to age 6 years. I want to see  how my family live at that time. Because the target of my live, 6 years later I have been married. I want to  see who is my husband, I want to see my child that still litle. Imagine that all it was very happy for me. I have a family, being a wife and mother. My parents  will be grandparents, while my brother and sister will be the uncle and aunt.
       Besides to  see my family life, I also want to see my dreams. Are the dreams that I written six years ago in a piece of  paper  really become reality or not.  S3 dream to continue studing in japan with my husband, dream to be best selling author, dream to memorize Al-Quran, dream to dispatch my parents to the holy land of Mecca, dream to finance the education of my brothers and sisters, and much more.
       I also want to know how the lives of my friends at that time. My friend who both wrote the dream six years ago with me. What are they have won all of their dreams? And on the promise that we say together, what will actually come true? (hehe.. we often pledge and make the dream together).
Look at family life, look at the dreams and the friends life is very simple desire. But that is what I want. As a form of proof that the present will have a stake in shaping my future later. So, altought the time machine has not been found, at least I can imagine my future. imagine it with doing business this time, and I think it would make more sense.